Minggu, 15 Januari 2012
FILOSOFI BAJAJ DAN ROCK N ROLL
"Yang terpenting adalah kita harus selalu ingat pada tujuan awal dan tetap fokus pada rencana, meskipun semua orang bilang, itu gila!”

Layaknya Sang Legendaris Musik Rock, Bajaj akan selalu tetap dikenal oleh semua orang sebagai alat transportasi yang merakyat, meskipun di perubahan zaman nanti keberadaannya perlahan-lahan mulai ditiadakan oleh Peraturan Daerah dan akan digantikan oleh kendaraan roda tiga sejenisnya yaitu Kancil yang berbahan bakar Gas, tapi namanya akan selalu tetap ada, bahkan pada mereka yang sama sekali belum pernah melihat, mencicipi dan atau merasakan setiap getaran cinta dari mesin Sang Legendaris transportasi ini. Yang kata sebagian orang rasanya seperti naik burung unta terbang. Tapi bagaimanapun peran dari Sang Legendaris akan selalu tetap dikenang, apalagi bagi mereka yang benar-benar sudah pernah merasakan kehebatan Sang Legendaris saat melaju dengan lincahnya di tengah-tengah kemacetan Ibu Kota.

Semangat Sang Legendaris tidak akan pernah luntur untuk selalu tetap setia mengantarkan penumpang, meskipun peranannya kini kerap di hantam oleh besarnya Bus Kota, Metro Mini, Angkot, Taxi dan mobil-mobil mewah. Pastinya, Bajaj Sang Legendaris ini, pantang untuk menyerah dalam menghadapi kerasnya persaingan bebas di jalanan, karena baginya “Aku adalah bagian dari sejarah Ibu Kota dimasa lalu dan salah satu kendaraan yang jarang sekali kena tilang Polisi!”

Hidup Sang Legend sangat sederhana, tapi dikesederhanaannya ia menyimpan banyak filosofi hidup.

Pertama, dengan tubuhnya yang berukuran kecil Bajaj mampu menembus kemacetan Ibu Kota dan berhasil mengantarkan penumpangnya sampai tujuan dengan selamat dan tepat pada waktunya. Ini mengajarkan kita semua untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil disekitar kita, karena kadang hal-hal yang kecil itulah yang mampu lebih cepat membawa kita pada apa yang kita cita-citakan.

Kedua, Bajaj punya banyak cara yang sangat unik untuk bisa cepat sampai pada tujuan, yaitu cerdas dalam membaca situasi kapan Polisi lengah, untuk dapat menerobos lampu-merah dan berjalan melawan arah dengan cepat dan lincah. Ini mengajarkan kita untuk selalu berfikir kreatif, mencari cara jitu yang tepat untuk dapat mengantarkan kita pada tujuan hidup dan cita-cita yang kita impikan.

Ketiga, Bajaj akan selalu tetap siap dan pantang menyerah dalam mengantarkan penumpangnya, meskipun harus melewati ramainya pasar, banjir, rusaknya jalanan dan padatnya gang-gang kecil di pinggiran kota yang tidak dapat di lalui oleh para pesaingnya. Artinya, sebagai manusia kita harus selalu siap dan berani mengambil resiko dalam mencapai sebuah tujuan hidup, orang lain mungkin akan berhenti ditengah jalan karena banyaknya hal, tapi kita tidak! Kita harus tetap optimis dan berusaha menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang ada di hadapan kita. “Karena salah satu syarat dalam mencapai sebuah tujuan adalah kesiapan mental!”

Keempat, Bajaj tak gentar melawan arus kemajuan zaman, ia tetap eksis di jalan-jalan Ibu Kota. Bahkan sampai saat ini, disaat peranannya sebagai alat transportasi mulai dilupakan oleh Pemerintah, ia tetap menjadi primadona pilihan warga Ibu Kota dari berbagai macam etnis, budaya dan kedudukan. Artinya Bajaj akan selalu tetap menjadi pilihan. Ini mengajarkan kita untuk tidak takut pada perkembangan zaman, karena yang terpenting dalam sebuah kemajuan bukan pada perubahan zaman tapi seberapa banyak kita punya peranan.

Kelima, Bajaj tidak pernah minder saat harus adu cepat dengan Bus Kota dan mobil-mobil mewah. Karena yang terpenting baginya dalam sebuah persaingan hidup tidak dilihat dan atau dinilai dari hebat atau kayanya seseorang tapi dari semangat dan mentalitasnya.

Keenam, Bajaj tidak pernah perduli pada umurnya yang tua, karena yang dipikirannya hanya mengantarkan penumpang dengan cepat, tepat dan selamat. Ini mengingatkan kita pada musisi-musisi legendaris Indonesia, sebut saja namanya seperti Iwan Fals, Ebit. G. Ade, Ahmad Albar dan lain sebagainya. Umur mereka boleh saja tua tapi semangatnya dalam berkarya akan selalu tetap ada dan digemari oleh sebagai besar masyarakat Indonesia. “Apalah artinya sebuah umur bagi mereka jika disetiap perjalanan hidup tidak ada yang bisa dibanggakan?.....” Oleh karena itu ciptakanlah mimpi besarmu dan fungsikan perananmu, sabagai apa sajalah, yang terpenting semua itu bermanfaat bagi dirimu, alam semesta dan orang-orang disekitarmu. Seperti layaknya Sang Legendaris Bajaj, biarpun kecil dan terpinggirkan tapi tetap menjadi idola di pusaran modernitasnya Ibu Kota.

FILOSOFI BAJAJ DAN ROCK N ROLL untuk semua yang punya semangat berjuang...

By: Suciyanto Ari Siregar.

posted by Suciyanto Ari Siregar @ 12:12   0 comments
Rabu, 26 Oktober 2011
!DAUN - DAUN JATUH

“Entah apa yang sedang terjadi padamu, sampai detik ini, aku tidak pernah tahu?”

Pada batas-batas di sepanjang jalan ini, aku masih menyimpan banyaknya kenangan dan kata-kata indah darimu. Tentang aku yang tak pernah lepas untuk selalu bisa kau kagumi.

“Aku adalah laki-laki terhebat yang pernah kau punya”  katamu, saat kau rebahkan sebagian tubuhmu dibahuku. Dan itu sesuatu yang tidak pernah dapat aku lupakan darimu. Perempuan yang pernah ada, di dalam hatiku.

***

Di penghujung jalan tempat dimana kita bicara cinta, aku berhenti. Menyaksikan segala arah, memahami arti dari rimbunan daun-daun hijau yang menyimpan butiran-butiran cahaya akibat derasnya hujan semalam.

Kau yakinkan kepadaku, bahwa keindahan-keindahan yang kita saksikan saat itu sama persis seperti apa yang sedang kau rasakan, saat kau berjalan bersamaku, menyusuri jalan-jalan setapak di antara rimbunnya pohon-pohon dan tajamnya cahaya yang menembus rongga-rongga ranting. “ Daun-daun menjadi lebat dan indah, karena resapan air dalam tanah sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Dan itu sama seperti apa yang ada di dalam hatiku. Perasaan ini menjadi indah, lebat dan berbunga-bunga karena resapan-resapan perhatianmu yang kau berikan kepadaku”  katamu yang ku jawab dengan senyuman.

“Apakah benar, aku adalah laki-laki terbaik yang pernah kau temui?” kataku, yang menghentikan langkahmu. Dan lalu kau genggam kedua tanganku, kau katakan kepadaku“Aku berharap kau tidak akan pernah meninggalkanku...” mendengar kata-kata indahmu, membuat aku semakin yakin menyerahkan seluruh hidupku untuk hidupmu sepenuhnya.

Di bawah janji yang telah aku ucapkan untukmu, aku temani kau di sepanjang jalan itu dengan segenap rasa yang aku tumpahkan dan kau inginkan. Bahkan tidak sedikit-pun yang tersisa, karena semua rasaku adalah milikmu seutuhnya. Sungguh cinta, membuat semuanya menjadi indah.

Aku berharap pada setiap hari-hari yang kita lewati, tidak akan pernah kita lupakan sampai kita tua nanti.

***

Kebahagiaanku saat bersamamu seperti indahnya nyanyian burung-burung di atas ranting, seperti bunga-bunga yang mekar pada musimnya dan pastinya semua serba menyenangkan, karena adanya dirimu mengubah semua yang ada padaku, kau seperti cahaya, seperti juga udara. Masuk dalam kehidupanku, membawa aku pada kehidupan baru, setelah keruntuhanku, dimasa lalu.
Aku merasa hidup kembali, merasa punya jiwa, merasa punya arti. Bagiku, kau benar-benar istimewa di dua bola mataku. “Terima kasih nona, kau telah beri aku bahagia!” bisikku menggoda, di telinga kananmu. Dan lalu! Kau membalasnya dengan sedikit cubitan dan senyuman...

Semua bagiku, saat itu, serba romantis...

***

Di bawah cahaya matahari yang hampir saja tenggelam, aku antarkan kau pulang bersama ribuan harapan-harapanku yang aku titipkan kepadamu. “Ku mohon tolong jaga, apa yang aku punya, untukmu” kataku meminta kepadamu __ Kau tersenyum, mainkan mata genitmu “Apa itu?...” tanyamu menggodaku__Ku jawab “Cinta!” di sepertiga perjalanan menuju pintu depan rumahmu yang membuat aku dan kau sangat bahagia, karena saat itu bahasa cinta bisa kita terjemahkan dengan begitu sangat: “Sempurna”

***

Kini sudah sebulan aku tidak temui kau. Aku terkurung rindu! Terkurung pada jutaan ribu kata-kata manismu. Terkurung pada jutaan ribu harapan-harapan yang ingin segera aku muntahkan saat bersamamu. Aku rangkai semua yang indah-indah di dunia ini, dari pancaran cahaya pelangi yang aku curi, bunga-bunga yang aku beli dan kupu-kupu yang aku tangkap di taman cinta yang aku buat sendiri. Semua itu ada dan hanya aku persembahkan untukmu, untukmu dan hanya untukmu.

Di jalan-jalan setapak menuju rumahmu ini, aku lumpuhkan semua jadwal-jadwal pesta bersama teman-temanku, aku matikan dua nomor handphone aktifku, aku tinggalkan lima artis idolaku dan aku lupakan tentang bonus kerja sebulanku. Hanya karena aku sudah tak sabar lagi ingin sekali bertemu denganmu, menikmati hari-hari indah seperti saat pertama kali kau ajak aku ke sebuah taman yang penuh dengan kuatnya kenangan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan.

“Kekasihku, tunggulah aku, malam minggu ini aku datang, membawa ledakan rindu!”

Dua langkah lagi aku ada tepat di depan pintu rumahmu, dan aku berhenti. Entah apa yang sedang terjadi padamu, sampai detik ini, aku tidak pernah tahu? Di depan dua mataku, kau perlakukan laki-laki lain sama seperti kau perlakukan aku. Sungguh aku benar-benar tidak pernah tahu, kenapa kau begitu tega hancurkan perasaan cintaku!

***

Apa salahku kepadamu, pada sepanjang jalan ini, daun-daun jatuh bersama kekecewaanku kepadamu.

Reff:  Ternyata selama ini aku, bukanlah satu-satunya untukmu
           Kau duakan aku dibelakangku, hancurkan perasaan cintaku

Diambil dari kutipan lagu “Kau Bermain di belakangku” karya “Ganesha Triatmojo” Sahabat sejatiku. Dan pastinya ini adalah sebuah kisah nyata, untukmu.

By: Suciyanto Ari Siregar

posted by Suciyanto Ari Siregar @ 05:53   0 comments
Selasa, 18 Oktober 2011
“LAKI-LAKI YANG MENJARING MATAHARI”
“Kesepian itu tidak selamanya identik dengan kesendirian…”

Ini tentang seorang laki-laki yang menjaring matahari, yang setiap pagi harus siap berlari, berlari menjaring matahari, matahari yang selalu berkomitmen dalam bersikap, bersikap untuk tetap setia pada porosnya, menjaga terang
untuk selalu tetap benderang. ”Ayo jaring matahari! Lupakan yang terjadi!” kata suara hati yang selalu dihantui sepi.

Ini bukan yang pertama kali, ini sudah yang ribuan kali, mengusir sepi dengan menjaring matahari.  

Sungguh Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan kondisi makhluk-Nya, hanya kadang makhluk-Nya yang memper-Tuhan-kan pikirannya sendiri, sehingga Tuhan yang sesungguhnya menjadi nomor dua. Memang benar pikiran diciptakan untuk memecahkan masalah, tapi bukan menjadi Tuhannya manusia. Pikiran hanya sebuah sarana untuk memfasilitasi suara hati dan suara hati adalah penyaring pikiran dalam pengambilan sebuah keputusan yang sifatnya mutlak.

”Maka kendalikan pikiran dengan hati, supaya penyesalan tidak menjadi pilihan!”

Sang laki-laki yang menjaring matahari itu-pun berhenti di kiloan meter, saat matahari menenggelamkan tubuhnya. Di lautan lepas
pada air mata yang berwarna jingga.

Keputusannya di hari-hari yang telah berlalu membuatnya menjadi penjaring matahari yang harus terus berlari, berlari untuk menghilangkan rasa sepi, rasa yang dipilihnya sendiri, yang membuat si pujaan hati pergi. Sampai tidak diketemukan lagi kata ”seandainya” ketika semuanya sudah berlalu. “Buat apa bersedih? Lebih baik berlari! Dan lalu tertawa!” kata laki-laki si penjaring matahari yang sadar akan keterbatasannya sebagai manusia yang tidak bisa mengembalikan waktu, apalagi menghentikannya.

Menertawakan nasib yang diciptakannya sendiri itu lebih baik dari pada menyesali apa yang sudah terjadi, meskipun saat tertawa proses berpikir manusia terhenti, tapi mungkin itu bisa menjadi lebih baik? Karena mencari senang bukan pada akal, tapi pada pengendalian hati.

Si laki-laki penjaring matahari larut dalam sepi, sebab malam hanya timbulkan bulan yang cahayanya mirip dengan wajah si pujaan hati. Ia ingin sekali berlari dan lalu tertawa
seperti orang gila, agar luka dalam hati bisa berhenti, tapi sayang, malam bukan waktunya untuk berlari. Dan, ia harus menahan perih itu sampai malam berganti pagi.

Tidak tahan dalam rutinitas menjaring matahari, ia pergi mengumpulkan awan-awan yang terbentuk dari butiran-butiran air penyesalan, yang menguap ditarik panasnya matahari dan lalu terkumpul menjadi satu membentuk hujan, hujan yang melahirkan banyaknya harapan.
Harapan untuk menjadi dirinya kembali. Seperti saat, sebelum ia mengenal si pujaan hati.

Tapi sayang, cinta tetaplah cinta, yang sejatinya sulit untuk dimengerti
?
Stasiun Pocin (Pondok Cina), 11 November 2007 ”Dalam sebuah gerbong kereta, indah namamu
terpaksa kupendam dalam-dalam”

By: Suciyanto Ari Siregar. 


posted by Suciyanto Ari Siregar @ 10:45   0 comments
CERITA PAK GOEN
“Berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirkan, apalagi yang berhubungan dengan pilihan hidup”  kata Pak Goen kepada para juniornya yang baru enam bulan bekerja.
***

Sabtu siang, tanggal 24 April 2011.
Ir. Desi Handoko Wijaya, seorang General Manager di salah satu Perusahaan Besar di Jakarta dan pemilik majalah mingguan “BIMAKU”. Mengatakan. “Jangan panggil aku Kartini!” dengan intonasi nada yang tegas pada sebuah acara penutupan seminar tentang "Peran Aktif Perempuan Indonesia Dalam Pembangunan" yang diadakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kota pelajar, Yogyakarta.

***

SEBUAH KILAS BALIK! 

21 Oktober 1990
Pada sebuah Hotel, di pusaran Jakarta.
Semua tamu undangan yang hadir menyambut dengan gembira kedatangan Ir. Desi Handoko Wijaya dengan tepukan tangan yang sangat meriah, bak menyambut datangnya seorang Pahlawan yang menang dalam medan pertempuran.
“Selamat Des, kamu layak disebut Kartini!” Sambut seorang pengusaha yang tiga kali gagal menjadi Bupati.
(Desi tersenyum manis) “Terima kasih Pak, sebutan itu akan selalu saya jaga baik-baik.”
“Hidup Desi! Hidup Desi! Hidup Desi!” Teriak gembira semua tamu undangan.

***

Setelah acara pengangkatannya sebagai General Manager di salah satu Perusahaan Besar di Jakarta. Desi ditemani sahabatnya Nina (yang sudah memiliki tiga orang anak) melanjutkan kegembiraan itu di sebuah Apartemen mewah miliknya, di bilangan Jakarta. “Hari ini! Hari istimewa buatku! Kamu lihatkan Nin?! Tadi semua orang menyambutku dengan gegap-gempita! Meneriak-neriakkan namaku! Dan bertepuk tangan disetiap kata yang aku ucapkan! Aku senang Nin! Aku senang! Ini mimpiku! Ini impianku! Aku bahagiaaaaaaaa!!!” teriak Desi di atas meja makan, pecahkan suasana malam.
”Des! Jangan teriak-teriak ini sudah malam!” tegur Nina.
”Upts! Sorry! Aku terlalu bahagia Nin”
“Sudah, sini, turun!”
“Ok!” Desi-pun turun dari atas meja dengan senyum kegembiraannya yang tidak ada habis-habisnya, seperti seorang anak balita yang mendapatkan hadiah sepeda roda tiga.
“Oh ya Des, dari tadi aku tidak lihat Bima. Kemana dia?” tanya Nina.
”Sudah aku suruh pulang tadi”
”Kapan?”
”Tadi sebelum acara dimulai”
”What?”
“Lho memangnya kenapa?”
“Tega ya kamu, Bima itukan calon suamimu, kenapa kamu suruh pulang. Tidak seharusnya kamu perlakukan Bima seperti itu, itukan hari istimewa kamu”
(Desi terdiam)
”Des, ada yang salah ya, sama Bima?” tanya Nina.
”Tidak!”
”Terus kenapa? Kamu perlakukan Bima seperti itu?”
”Aku merasa saja, kalau saat ini Bima sudah tidak lagi sepadan denganku”
”Maksudmu?”
”Sekarang aku adalah wanita karier, jabatanku adalah General Manager, tempat tinggalku di Apartemen mewah! Aku punya mobil! Aku punya rumah! Aku punya tanah luas! Aku punya usaha percetakan! Dan tidak semua orang bisa seperti aku. Dalam usia cukup muda, 29 tahun, aku sudah punya semua ini. Sedangkan Bima, hanya seorang Wartawan Surat Kabar Lokal, usia sudah 31 tahun tapi hanya punya motor butut! Apa yang harus aku banggakan dari Bima?” (Desi diam sejenak sambil menikmati secangkir kopi yang baru dituangkannya) ”Mau nambah Nin? ” tawar Desi kepada sahabatnya ”Cukup terima kasih...” jawab Nina. Dan lalu Desi melanjutkan ucapannya. ”Aku berharap Nin, suatu saat aku bersanding dengan orang yang sepadan denganku atau kalau perlu yang di atas aku. Aku tidak mau Nin, kebahagiaanku yang selama ini aku cari akan terbuang sia-sia hanya karena aku menikah dengan seorang wartawan surat kabar lokal seperti Bima yang penghasilan perbulannya sangat jauh sekali di bawah ku”
”Kalau begitu, kenapa dulu kamu mau jadi pacarnya?” tanya Nina.
”Karena aku mencintainya”
”Lantas kenapa sekarang berbeda?”
”Karena setelah aku pikir-pikir bukan cinta yang bisa membuat aku bahagia, tapi harta, kedudukan dan karier, dengan itu semua aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri, aku bisa memilih dan mendapatkan apa saja yang aku suka. Pastinya semua ini adalah pilihan sadarku”
”Boleh aku bertanya Des?” pinta Nina.
”Silahkan...” jawab Desi sambil menyalakan Televisi 50 inci terbarunya yang seharga 24 juta, di sebuah ruang tamu yang dipenuhi oleh barang-barang impor.
”Kamu pilih yang mana? Orang yang kamu cintai atau karier, kedudukan dan harta?
 (Desi tersenyum!) ”Apa ada yang salah dengan pilihan sadarku?”
”Tidak ada yang salah! Tapi aku ingin tahu alasanmu?”
”Pastinya cinta tidak bisa membeli apa yang aku inginkan, sedangkan karier, kedudukan dan harta bisa membeli semua yang aku inginkan. Kalau aku ingin jalan-jalan ke tempat-tempat terindah di dunia, apakah aku harus membayarnya dengan cinta? Kalau aku mau dihargai dan dihormati oleh semua orang, apakah aku harus membayarnya dengan cinta? Kalau aku mau ini dan itu, apakah aku harus membayarnya juga dengan cinta? Cinta hanya sebatas konsep, bukan alat mencari bahagia!”
(Nina geleng-geleng kepala) ”Sadar Des! Kamu telah dibutakan oleh karier, kedudukan dan harta!”
(Desi tertawa lebar!) ”Lebih baik aku dibutakan oleh itu semua, dari pada aku dibutakan oleh cinta. Aku tidak mau bernasib seperti Khalil Gibran dan Romeo and Juliet yang mati sia-sia dan tidak bisa menikmati hidup seutuhnya karena tergila-gila oleh konsep cinta, sebuah konsep yang banyak menguras airmata karena terlalu banyak mengandalkan perasaan dari pada akal dan logika”
”Berarti perasaanmu kini telah hilang Des?”
”Tepat! Karena perasaan hanya menghambat kita dalam mengambil sebuah keputusan!”
”Berarti suatu saat kamu juga akan menghilangkan aku dari daftar sahabatmu?”
(Desi terdiam dan lalu mematikan Televisinya)
”Nin, aku hanya ingin menciptakan mimpiku bukan menghancurkan persahabatanku”
”Kalau begitu, lupakan semua tentang konsep-konsep gilamu itu dan kembalilah seperti Desi yang dulu, yang aku kenal pemurah dan sangat baik hatinya”
(Desi terdiam untuk jangka waktu yang cukup lama)
”Aku harap, besok pagi kamu akan mengambil sebuah keputusan yang tepat...” Nina-pun berlalu. Tapi Desi tetap bersikukuh dalam hati, bahwa apa yang dipikirannya adalah benar ”Cinta hanyalah sebatas konsep dan bukanlah alat untuk mencari bahagia!” karena tingkat kebahagiaan seseorang hanya bisa diukur dari sebuah nilai kepuasan yang dimilikinya dan nilai kepuasan yang dimilikinya itu menurut Desi adalah mendapatkan karier yang bagus, kedudukan yang terhormat dan harta yang berlimpah. Oleh sebab itu pada pukul tujuh pagi, lewat lima menit, Desi menemui Bima di tempat kostnya, sebelum dia menuju ke tempat kerjanya di Jalan Jenderal Soedirman. Bima sungguh tidak menyangka jika kehadiran kekasihnya yang dikenalnya dari semenjak duduk di bangku kuliah itu, datang hanya untuk memutuskan hubungan yang telah lama mereka bina bersama. ”Tapi apa boleh buat keputusanmu harus ku makan bulat-bulat! Kamu memang sekarang sudah tidak lagi sepadan dengan ku dan aku hormati semua keputusanmu, karena aku sangat tulus mencintaimu. Semoga kamu bahagia dengan apa sedang kamu pikirkan saat ini. Aku ucapkan banyak terimakasih atas segala waktu-waktuku yang tercipta indah saat aku bersamamu” kata Bima di akhir percakapan mereka berdua. Desi terdiam dan lalu pergi meninggalkan Bima, tanpa kata dan pesan terakhir dari mulutnya karena Desi sadar jika dia tidak segera pergi dari Bima, maka perasaan itu akan mengalahkan apa yang dia pikirkan selama ini, yaitu mengejar kariernya yang bagus di masa depan. ”Perasaan hanya menggagalkan kita dalam mengambil sebuah keputusan dan keputusan adalah sebuah pilihan sadar dalam menentukan jalan hidup seseorang” kata Desi dalam hati di setiap langkah-langkahnya yang terpijak pasti. 
Nina yang mengetahui keputusan sahabatnya itu, segera menemui Desi di ruang kerjanya yang mewah.
”Hebat kamu Des, secepat itu kamu mengambil sebuah keputusan!” teguran Nina kepada sahabatnya.
”Aku butuh masa depan yang cerah!” balas Desi sambil merapikan berkas-berkas kerjanya yang akan dibawa meeting nanti siang.
”Kamu siap-siap aja nanti”
”Siap-siap apa?” tanya Desi.
”Siap-siap kehilangan senyuman termanis yang selalu menyambutmu di setiap hari”
”Senyum manis Bima maksudmu?”
”Iya, siapa lagi?”
(Desi tertawa lepas!) ”Semua orang di kantor ini selalu tersenyum manis kepadaku, lalu apa hebatnya senyum manis Bima?”
”Benar Des! Semua orang di kantor ini memang akan selalu terseyum manis kepadamu, karena kamu kini adalah seorang General Manager di kantor ini. Tapi Bima akan selalu tetap tersenyum manis kepadamu, tidak perduli kamu General Manager atau Office Girl, seperti dulu”
”Stop!” pinta Desi.
”Kenapa? Kenapa harus kamu stop kata-kataku, apakah aku ini sudah tidak lagi dianggap sebagai sahabatmu?”
”Bukan itu Nin, maksudku!”
”Lalu apa maksudmu?”
”Aku hanya tidak ingin perasaanku mengalahkan pikiranku, meskipun aku seorang wanita”
”Pikiranmu yang mengatakan bahwa cinta hanyalah sebatas konsep dan bukanlah alat untuk mencari bahagia! Itu maksudmu?”
”Tepat!”
(Nina geleng-gelengkan kepala) ”Kalau memang begitu, berarti kamu telah terlalu jauh tergelincir oleh pikiranmu sendiri, sehingga kamu lupa bahwa selama ini Bima-lah yang selalu membuat kamu tertawa bahagia”
”Maksudmu?”
”Kamu lupa! Bahwa Bima-lah yang selalu setia menemanimu di saat kamu di rawat rumah sakit dan dia jugalah yang selalu bisa membuatmu tertawa lepas di rumah sakit dengan cerita-cerita lucunya”
”Ah! Kalau itu sih, mudah saja bagiku!” kata Desi dengan sombongnya.
”Mudah bagimana maksudmu?”
”Kalau aku di rawat lagi, aku tinggal suruh Yanti Sekretarisku untuk selalu menemaniku di rumah sakit dan Pak Ujang Security yang lucu itu untuk selalu melawak di depanku”
”Ya, setelah itu mereka berdua meminta uang lemburan karena dapat kerja tambahan di rumah sakit”
(Desi terdiam!)
”Kenapa kamu terdiam Des?” tanya Nina yang tidak sabar menunggu jawaban dari mulut sahabatnya itu.
Karena tidak ada balasan kata, Nina-pun melanjutkan pembicaraannya. ”Dan kamu-pun akan kehilangan perhatian spesial dari Bima yang tulus dan tanpa pamrih, karena cintanya kepadamu”
(Desi tersenyum kecut!) ”Perhatian apa? Perhatian, untuk selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa sarapan, makan siang, menjemput dan mengantarkan aku pulang, maksudmu?”
”Ya, sedikitnya, seperti itulah...” jawab Nina.
”Aku ini bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan makan Nin, dan aku juga bukan Office Girl lagi, karena sekarang aku sudah punya Driver pribadi yang siap setiap saat untuk selalu menemaniku, menjemputku dan mengantarkan aku pulang”
”Kamu memang bukan anak kecil lagi, tapi kamu sering telat makan, bahkan lupa makan karena keasyikan kerja. Sehingga kamu pernah di rawat di rumah sakit karena penyakit typhus. Kalau tidak ada yang mengingatkan kamu, bisa-bisa kamu kena Liver nantinya dan lalu apakah Driver pribadimu itu bisa menjadi teman terbaikmu dalam berdiskusi masalah-masalah pribadimu?”
”Tenang saja Nin, ada Yanti Sekretarisku yang akan mengingatkan aku masalah itu dan untuk teman berdiskusi kan masih ada kamu Nin”
(Nina tersenyum) ”Bagaimana dengan puisi-puisi Bima yang katamu dulu kerap memberikanmu inspirasi dan semangat-semangat baru dalam hidupmu saat kamu terjatuh?”
”Itu dulu Nin, sekarang kalau aku mau aku bisa dapatkan itu semua di Pasar Senin, Toko Agung dan Gramedia, di sana banyak puisi-puisi picisan seperti itu”
”Dan bagaimana dengan aku jika perasaanmu benar-benar hilang? Apakah aku juga akan kamu campakkan seperti Bima?”
Desi terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama, Nina tak sabar dan lalu menegurnya ”Des,...” kata-katanya lembut dengan penuh keprihatinan karena sikap sahabatnya itu. ”Ternyata benar perasaanku selama ini, kalau sahabatku yang aku sayangi telah terlalu jauh berubah...”
Desi tetap terdiam, menundukkan kepalanya.
”Jika memang nanti nasibku sama seperti Bima, aku ikhlas Des,...”
Desi tidak menjawab, pikirannya mencoba menahan kuat-kuat perasaannya, dan lalu kata-kata yang di tunggu Nina-pun akhirnya keluar juga dari mulutnya ”Di kantor ini semua orang akan bersaing menjadi yang terbaik, untuk menggapai hidup yang lebih baik, semoga kamu mengerti dengan kata-kataku Nin...”
(Nina mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu) ”Semoga kamu temukan bahagia dengan jalan pikiranmu itu...” Kata Nina sambil menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai karyawan di tempat dimana dia meniti karier bersama sahabatnya itu. ”Sejak masih kuliah kita sudah sama-sama bekerja di tempat ini, meniti karier dengan semangat kerja yang sangat luar biasa bagiku, dari menjadi Office Girl sampai menjadi Manager, kita lalui bersama dengan tawa dan canda kita di tempat ini, jujur aku katakan kepadamu Des, bahwa aku sangat bahagia menjalani proses kehidupan itu bersamamu di tempat ini. Tapi sayang, kini semuanya sudah berubah. Dan aku harus mengundurkan diri. Aku mengundurkan diri bukan karena aku takut bersaing denganmu di tempat ini, tapi karena tidak mau menyaksikan masa-masa indah itu hilang di depan mataku, bersama hilangnya si cantik sahabatku yang bernama Ir. Desi Handoko Wijaya seorang gadis desa yang aku kenal sangat baik hatinya”
(Desi berusaha tegar dengan sikapnya, pikirannya melumat habis-habisan perasaan di dalam hatinya dan lalu ditandatanganilah surat pengunduran diri sahabatnya itu) ”Baiklah kalau saudara memang sudah tidak berminat lagi bekerja di Perusahaan ini, saya akan urus semua berkas-berkas pengunduran diri saudara dan saya pribadi mengucapkan banyak terimakasih atas dedikasi saudara selama saudara bekerja di Perusahaan ini” kata Desi dengan bahasa yang tiba-tiba saja formal. Nina terdiam dan benar-benar tidak menyangka dengan sikap sahabatnya itu ”Terima kasih bu Desi!” balas Nina dengan bahasa yang sama-sama formal. 

***
 
Di sebuah kedai kopi, 24 April 2011. Tiga Wartawan di salah satu Surat Kabar Harian di Jakarta, duduk asyik menikmati indahnya matahari sore, setelah mereka lelah menulis berita tentang seminar yang bertajuk ”Peran Aktif Perempuan Indonesia Dalam Pembangunan” di kota pelajar, Yogyakarta.
”Nah! Seperti itulah ceritanya, kenapa Ir. Desi Handoko Wijaya tidak mau dirinya dipanggil ”Kartini”. Apalagi sampai saat ini di usianya yang sudah 50 tahun, dia belum juga mendapatkan seorang suami” kata Wartawan senior yang akrab disapa Pak Goen.
”Bagaimana dengan Bima, Pak Goen?” tanya Dika seorang wartawan muda yang baru enam bulan bekerja.
”Sekarang Bima sahabatku itu aktif dalam penulisan buku mengenai keluarga dan salah satu karya terbaiknya adalah buku yang baru saja Heru baca tadi.
Heru memperhatikan buku yang ada dalam genggamannya. ”Buku ini, Pak Goen?”
”Iya, dan cover depannya adalah foto anak dan istrinya”
”Kalau nasibnya Nina, gimana Pak Goen?” tanya Dika kembali.
”Kapan-kapan kalian berdua mainlah ke rumahku, di sana kalian akan melihat betapa bahagianya dia hidup bersamaku dengan ketiga orang anak perempuan yang mulai beranjak dewasa”
”Maaf...”
Pak Goen tersenyum ”Ga pa-pa” dan semuanya-pun berlalu bersama tenggelamnya matahari...

By: Suciyanto Ari Siregar


posted by Suciyanto Ari Siregar @ 10:13   0 comments
ORANG GILA!

”Apa untungnya kematian seorang Jenderal bagi saya yang miskin ini?”

***
Di suatu ketika, seorang Jenderal berbintang tiga memberikan perintah kepada seorang Sersan untuk menambah kecepatan laju mobil dinas yang sedang dikendarainya. ”Sersan! Tolong dipercepat lagi, sebab hari ini saya akan ada pertemuan dengan Bapak Presiden” Perintah Sang Jenderal. Yang langsung dijalankan oleh Sersan tersebut. ”Siap Jenderal!” dan lalu mobil dinas Sang Jenderal itu-pun melaju dengan kecepatan tinggi. Menerobos lampu merah yang menyala dan mengabaikan rambu-rambu lalu-lintas di sepanjang jalan yang terpampang jelas.

***
Perkenalkan nama saya ”Kardiyanto Kusnoto” tapi semua orang di kampung saya biasa memanggil saya dengan panggilan ”Kusjek” singkatan kata dari, badan kurus hidung pesek muka jelek! Ah! Perduli amat dengan sebuah julukan, karena yang penting bagi saya adalah hidup senang dan bisa menang. Senang karena hari ini bisa makan dan menang melawan rasa lapar. Oleh karena itulah dalam menjalankan hidup saya selalu saja merasa cukup (cukup memprihatinkan maksud saya!). Meskipun hidup ini sulit, tapi saya tetap bersyukur, karena saya masih bisa berkreasi di atas kebingungan saya dalam mencari rezeki. Saya ini adalah seorang seniman jalanan yang serba-bisa. Bisa buat lagu walaupun tak laku-laku, bisa bikin puisi walaupun tak ada yang mencintai, bisa menari walaupun dianggap orang gila sejati dan bisa lari dalam kecepatan yang sangat tinggi!
”Lari?” tanya seorang Wartawan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Kampret, sebuah nama yang membuat saya tertawa di pertemuan pertama.
”Iya! Lari! Sebuah bakat alam yang saya temukan saat saya dikejar Kamtib! Berkali-kali!” jawab saya.
”Oh...” Wartawan yang bernama Kampret itu mengangguk-anggukkan kepala.

***
Pagi ini, saya akan mempersembahkan karya saya, hasil sebuah perenungan saya yang sangat tajam dan begitu panjang. Yaitu sebuah tarian kegelisahan hati yang saya beri judul ”Monyet!”
”Monyet?” wartawan itu kebingungan.
”Iya, monyet mas! Karena hanya satu suku kata itulah yang bisa mewakili keprihatinan saya terhadap manusia-manusia yang lupa akan tugas dan fungsinya sebagai manusia.
”Berlaku untuk semua agama?”
”Bukan agamanya. Tapi semua manusia beragama yang lupa akan ajaran-ajaran agamanya. Agama itukan mengajarkan kebaikan dalam menuju perbaikan bukan kejahatan dan perusakan yang menuju pada kehancuran.”
”Untuk semua Negara?”
”Semua Negara di dunia ini tidak ada yang salah! Negara hanya sebuah objek yang tidak bisa berbuat apa-apa dan bentuknya itu hanya sebuah pilihan. Maju atau tidak, bagus atau jelek sebuah Negara itu tergantung pada si pengurus Negaranya, yaitu, manusia-manusia yang menepatinya”
”Para pejabat, maksud anda?”
”Pejabat itukan kedudukannya. Yang rusak itukan manusianya. Artinya, mau itu Agamawan, Budayawan, Politikus, Guru, Bupati, Petani, Nelayan, Kuli bangunan atau rakyat jelata sekalipun. Kalau hati dan pikirannya busuk, ya busuklah nilai dia sebagai manusia. Bukan kedudukannya yang harus di nilai busuk”
”Kalau koruptor? Pencuri? Pemerkosa? dan lain-lain?”
”Koruptor! Pencuri! Pemerkosa! itukan sifat moral manusianya, bukan kedudukannya. Karena di KTP siapa-pun tidak pernah saya temukan itu tertulis, meskipun manusianya sering keluar-masuk penjara karena kasus tersebut. Nah! Tarian yang saya beri judul ”Monyet!” ini hanya sebatas mengeritik, menegur dan mengingatkan manusianya yang lupa akan jati dirinya sebagai manusia yang sama dimata Tuhan. Yaitu, sama-sama punya tugas dan fungsi menjaga dan menjalankan perintah Tuhan-Nya. Berbuat kebaikan untuk menuju perbaikan di muka bumi ini”
”Kalau begitu saya ucapkan terima-kasih atas waktunya kapada mas? Siapa namanya?...” Wartawan itu ternyata lupa dengan nama saya. Saya geleng-geleng kepala dan lalu saya katakan dengan tegas ”Kardiyanto Kusnoto!”
”Oh... Kusjek!” celetuk Wartawan itu, seperti disengaja.
Tidak lama kemudian tiga orang berseragam medis datang menghampiri kami berdua, tapi Wartawan itu tiba-tiba saja lari ngibrit tanpa henti! Saya bingung! “Ada apa ini?” suasana makin gaduh, pikiran saya makin tidak menentu!
”Tangkap orang gila itu mas!” teriak salah satu orang yang berseragam medis itu, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Wartawan itu.
”Apa? Orang gila!” saya terkejut, saya benar-benar tidak menyangka kalau pagi ini saya baru saja di wawancarai oleh orang gila ”Setan! Ngaku Wartawan! Jebolan’ne wong edan! Pantesan namanya Kampret!”
”Ayo! Mas! Bantu saya nangkap orang itu!”
”Pret!!! Tangkap aja sendiri!!!” saya kesal dan lalu pergi meninggalkan tempat itu.

***
Saya menari di perempatan kota, saya curahkan semua kegelisahan saya terhadap manusia-manusia negeri ini yang lupa akan tugas dan fungsinya sebagai manusia, saya tidak mau negeri ini meledak, saya tidak mau negeri ini rusak, saya tidak mau negeri ini tenggelam dalam kebobrokan moral, karena manusia-manusia yang asyik menikmati kata khilaf. Saya terus menari mengikuti suara hati, musik, irama pengukuhan jati diri.

Dalam keasyikan saya menari tiba-tiba orang gila yang bernama Kampret itu datang lagi dan kali ini dia memakai seragam Polisi.
”Berhenti!” teriak keras orang gila itu.
Saya tidak peduli, saya terus menari.
”Woi! Berhenti!” orang gila itu makin keras teriaknya.
Saya tetap menari walaupun sakit hati.
”Kamu ini benar-benar gila! Bodoh! Dan tolol!” orang gila itu memaki saya. Saya berhenti menari. Saya hampiri. Saya tidak terima, dibilang gila, bodoh dan tolol, sama orang gila itu.
”Mau kamu apa!” bentak saya keras.
”Saya mau kamu taati peraturan!” kata orang gila itu sambil bertolak pinggang.
”Peraturan apa? Dasar orang gila!”
”Kamu yang gila! Peraturan dilanggar! Coba lihat itu! Lampu merah! Tanda berhenti, bego!”
”Setan!” kali ini saya benar-benar keki. Saya ambil sendal, saya lempar kena mukanya. Saya tertawa.
Orang gila itu tak mau kalah, dia ambil batu lalu balas melempar. Saya menunduk, batu terhempas ke mobil Jenderal. Mobil Jenderal oleng, nabrak tiang. Orang gila itu ketakutan dia lari tunggang langgang, sembunyi dan lalu menghilang. Saya terdiam melihat Sang Jenderal pingsan. Semua orang berkumpul dan menuduh saya ”Dia orangnya!” saya tak sempat membela, semua orang terlihat garang, tangan saya dipegang dan saya mau dibakar ”Demi Tuhan! Bukan saya pelakunya!” dalam kepanikan, rombongan Polisi datang, saya-pun diamankan.

***
Seumur hidup, saya tidak pernah membayangkan saya akan bernasib sial seperti ini, duduk di kursi pesakitan sebagai seorang terdakwa hanya karena ribut dengan orang gila. Orang gila yang telah membuat hidup saya menjadi gila dalam penjara. Oh! Tuhan apa salah hamba? Kenapa hamba yang ingin menyampaikan kebaikan malah bernasib sial? Hamba sudah miskin dari awal, kenapa juga harus selalu Kau beri cobaan, cobaan dan cobaan!_Tuhan! Saya hanya seorang seniman jalanan yang ingin menyampaikan pesan. Pesan kebaikan, pesan kejujuran, pesan kesadaran dan pesan kehormatan untuk semua manusia supaya kembali kepada kodratnya sebagai manusia yang punya hati dan punya akal. Saya bukan Nabi! Maka jangan Kau beri cobaan seberat ini. Besok siang saya mau disidang tolong hujani saya dengan nikmat keadilan. Amien! (Saya berdoa dalam penjara)

***
Dalam persidangan, saya dibantai habis-habisan. Urat syaraf sadar saya hampir saja rusak, mendengar tuntutan Jaksa yang menurut saya terlalu berlebih-lebihan, yaitu, menginginkan saya untuk dijatuhkan hukuman penjara selama tujuh belas tahun lamanya dengan denda kepada Negara sebesar dua puluh lima juta rupiah, dengan tuntutan melakukan sebuah rencana besar, membunuh seorang Jenderal untuk sebuah kudeta. “Ini tuduhan gila! Saya tidak terima! Sinting kalian semua!” bentak saya, memaki Jaksa. ”Tidak mungkin! Saya punya rencana sebodoh itu! Apa untungnya kematian seorang Jenderal bagi saya. Saya ini hanya seorang seniman jalanan. Saya tidak kenal Jenderal, tidak kenal Kopral, tidak kenal politik, tidak kenal sabotase, tidak kenal kudeta.  Yang saya kenal hanya terminal, mushola, kolong jembatan, pangkalan waria, pangkalan wts, copet, supir, kondektur, buruh pabrik, tukang ojek dan lain sebagainya yang ada di jalanan sana tempat saya mencari makan dan bertahan hidup!” muka saya merah padam. Hati saya panas terbakar. Saya buat onar di persidangan. Hakim mengetuk palu, mencoba mengendalikan keadaan. ”Saudara Kusnoto! Saya harap saudara bisa kendalikan diri dan menghormati jalannya persidangan!”
”Tidak bisa! Sidang apaan ini?! Saya tidak bersalah! Kenapa harus dihukum seberat ini!” teriak saya tidak terima kepada tuntutan Jaksa, yang menurut saya terlalu sembarangan mengajukan tuntutan hukuman kepada saya. ”Setan kalian semua! Kenapa saya yang terbukti tidak bersalah, dituntut hukuman seberat itu! Apa karena saya ini orang miskin?! Jadi seenak dengkul kalian menjatuhkan hukuman! Dimana rasa keadilan kalian sebagai seorang penegak hukum!” saya marah tak terkendali, saya berdiri dan lalu saya tendang kursi. ”Pak Pengacara, tolong saya! Bela saya! Saya tidak bersalah! Saya tidak terima pernyataan Jaksa gila itu!” saya tunjuk muka Jaksa berkali-kali dan lalu Pengacara saya, menghampiri saya dan mencoba menenangkan amarah saya yang sudah membludak tinggi.
”Ok! Ok! Saya pasti bantu bapak! Tapi bapak tenangkan hati dulu, karena percuma bapak marah-marah disini, semua ada jalurnya, semua ada jalannya dan pastinya semua juga ada caranya dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, apalagi ini menyangkut ranah hukum, tidak sembarangan dalam menyelesaikannya, ada pasal-pasal dan ayat-ayat yang harus kita pelajari dan taati, tidak main pukul dengan emosi. Jadi saya harap bapak bisa bersabar mengikuti jalannnya sidang ini” pinta Pengacara itu kepada saya.
”Tapi Pak! Jelas-jelas saya tidak bersalah, tapi kenapa saya harus dituntut hukuman seberat itu! Melebihi hukuman dari seorang Koruptor yang sudah jelas-jelas terbukti bersalah menggerogoti uang rakyat Triliunan Rupiah!” bantah saya.
”Saya harap bapak kendalikan diri, jika bapak menginginkan persidangan ini bisa berjalan lancar” pinta Pengacara itu kembali.
”Apa artinya sidang ini bisa berjalan lancar, kalau saya tidak dapatkan keadilan!”
”Nanti ada waktunya bapak melakukan pembelaan, inikan hanya sebatas tuntutan Jaksa sementara yang nantinya bisa kita bantah bersama, kalau memang benar-benar bapak terbukti tidak bersalah, bapak bisa terbebas dari semua tuntutan Jaksa. Tapi kalau bapak masih bersikap seperti ini. Ini malah akan memberatkan bapak di mata hukum. Bapak mengertikan dengan apa yang sudah saya sampaikan tadi?” Pengacara itu memegang pundak saya. ”Tenang Pak, sebagai seorang Pengacara Bapak, saya punya kewajiban penuh untuk membela Bapak, sampai akhirnya Bapak menemukan keadilan di tempat yang terhormat ini” Pengacara itu meyakinkan saya bahwa sidang ini akan saya menangkan. Saya mengangguk-anggukkan kepala. ”Baik Pak, saya mengerti!” Saya ambil kursi yang saya tendang tadi, saya duduk kembali dan saya mencoba menenangkan diri, berharap penuh pada keadilan Negeri ini. Hakim mengetuk palu, beri tanda sidang dibuka kembali, setelah setengah jam berhenti karena insiden tadi.

Setelah Jaksa selesai membacakan tuntutannya. Kini giliran saya, membacakan pembelaan saya dengan sejujur-jujurnya tanpa adanya rekayasa sedikitpun, tidak seperti tuntutan Jaksa yang penuh dengan manipulasi data. Tapi sayang, teramat sayang bagi saya, pembelaan saya mentah di persidangan dan saya harus mejalani hukuman dari sebuah tuduhan perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. ”Dari pasal-pasal yang tersebut di atas, serta bukti-bukti dan saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Maka kami memutuskan saudara Kardiyanto Kusnoto, dinyatakan bersalah karena dengan sengaja telah melakukan sebuah tindakan yang dapat mengancam keutuhan Negara. Dengan ini, saudara Kardiyanto Kusnoto dijatuhkan hukuman penjara selama tujuh tahun lamanya dan denda yang wajib dibayar kepada Negara sebesar dua puluh lima juta rupiah. Jakarta, 21 Juni 2007, sidang ini resmi kami tutup!” Hakim mengetuk palu. Saya terdampar pada kebingungan. Pengacara saya tidak banyak bicara, dia kemas berkas-berkas pembelaan dan lalu pergi meninggalkan saya sendiri, tanpa sedikitpun kata yang keluar dari mulutnya. Sidang ini ibarat dagelan bagi saya, saya jatuh terinjak-injak dan lalu dicampakkan. ”Makanya jangan jadi orang miskin!” celetuk seorang sipir penjara yang mendampingi saya menuju ruang tahanan. ”Memangnya kenapa kalau saya miskin?” tanya saya kepada sipir penjara itu. Sipir penjara itu sepertinya tidak suka dengan pertanyaan saya, pandangannya sinis dan lalu dia berkata dengan kata-kata yang kasar kepada saya. ”Dasar goblok! Kalau lu orang kaya, lu ga bakalan ditinggal pergi begitu saja sama Pengacara lu!” mendengar pernyataan itu hati saya makin teriris. ”Memangnya apa yang salah dengan orang miskin?” tanya saya kembali. Sipir penjara itu-pun berhenti ”Orang miskin itu bikin susah Negara tau! Dah sana jalan!” Sipir penjara itu mendorong badan saya kuat-kuat yang membuat saya hampir saja terjatuh.

Di sepanjang jalan menuju ruang tahanan, saya tidak berhenti-hentinya menahan tangis, meratapi nasib saya yang begitu bengis. ”Kalau memang orang miskin bikin susah Negara, kenapa Negara malah memperbanyak orang miskin? Dengan kebijakan-kebijakannya yang membuat rakyat makin miskin, makin sengsara, makin tenggelam dalam penderitaan dan mati tanpa harapan?” kini saya enggan dalam berdoa, karena sudah terlajur jatuh dan putus asa! Saya bingung, Tuhan sedang berpihak kepada siapa?

Sebulan kemudian, saya ditemani tim Pengacara dari sebuah LBH (Lembaga Bantuan Hukum) bentukan salah satu Partai Politik baru yang bernama PPRS (Partai Peduli Rakyat Sengsara) mengajukan banding ke pengadilan tinggi, dan dalam persidangan di tingkat pengadilan tinggi, saya terbukti tidak bersalah, karena memang kecelakaan itu bukanlah sebuah rencana kudeta, tapi sebuah kecelakaan biasa yang terjadi diluar dugaan saya, yang mengakibatkan seorang Jenderal berbintang tiga terluka dan akhirnya jatuh pingsan di pinggir jalan. Meskipun saya terbukti tidak bersalah, saya tetap dijatuhkan hukuman enam tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan Jaksa sebelumnya. Setahun kemudian PPRS menjadi Partai yang besar, karena mendapatkan simpatisan dan dukungan yang kuat dari rakyat golongan menengah ke bawah yang telah lama kecewa terhadap kinerja Pemerintah yang tidak lagi berpihak kepada nasib rakyat yang sudah dipusingkan dengan banyaknya pengangguran, naiknya biaya pendidikan, BBM dan kebutuhan sembilan bahan pokok yang melambung tinggi, ditambah lagi peran aktif PPRS dalam membela kasus saya di pengadilan tinggi, menambah daftar kuat dukungan rakyat kepada PPRS di pemilu yang akan di laksanakan beberapa bulan lagi. ”PPRS PARTAINYA WONG KERE!” begitulah bunyi slogan yang kerap terdengar dan terlihat di media, radio, televisi dan spanduk-spanduk pinggiran jalan yang terpampang dengan sangat jelas.

Tetapi setelah masa pemilu itu usai, nasib saya tidak juga berubah, saya tetap menjadi seorang tahanan politik yang harus terus menjalankan masa hukuman dari sebuah tuduhan yang tidak pernah saya lakukan, bahkan rasa sakit hati saya malah semakin bertambah perih, ketika saya dengan tidak sengaja membaca sebuah surat kabar nasional yang bertuliskan ”PPRS SIAP DUKUNG KAMPRET JADI PRESIDEN!”_Saya tidak pernah habis pikir, kalau orang gila yang membuat saya masuk penjara itu, bisa dicalonkan jadi Presiden dari partai politik yang saya kira tulus dalam memperjuangkan nasib saya.

***

”Begitulah Pak ceritanya kenapa saya tidak tertarik untuk ikut dalam pemilihan Presiden nanti! Bukan karena saya tidak kenal atau anti Demokrasi, tapi karena saya sudah terlalu dalam merasakan yang namanya sakit hati! Biarkanlah Pak, ruang tahanan ini menjadi tempat saya untuk menenangkan hati...”

Suciyanto Ari Siregar. Cikarang, 12 November 2010.












posted by Suciyanto Ari Siregar @ 09:47   0 comments
KETULUSAN CINTA SEORANG ANAK TENTARA

Tanpa disadari terkadang kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana cinta membuat kita gila! 

Kepalaku, masih terasa pusing. Mungkin karena terlalu keras terbentur dinding ruang tamu tadi pagi, saat aku tiba-tiba saja terkejut melihatmu dan lalu terjatuh. Tapi untunglah tidak gegar otak total, meskipun aku sempat sedikit mengalami amnesia, sehingga aku tidak butuh waktu yang lama untuk mengingat siapa perempuan berparas cantik yang duduk manis di sampingku. ”Tyas Ayu Pratiwi” yang selalu terselip indah dalam setiap perjalanan hidupku.
Aku masih ingat saat pertama kali aku menggodamu ”Hai cantik!” kataku sambil mencolek lenganmu, saat aku sedang asyik duduk bersama teman-teman seangkatanku di Halte Bus depan Kampus, yang membuatmu benar-benar begitu membenciku, kau lipat wajah cantikmu dan kau tampar keras pipiku ”Tolong jaga sikapmu! Dasar Mahasiswa gembel!” katamu yang begitu saja berlalu bersama bus kota yang melaju. 

***

Malam harinya, setelah kejadian itu, aku benar-benar merasa bersalah kepadamu dan jujur aku langsung jatuh cinta kepadamu! Ini lucu! Ajaib! Membingungkan! Dan sangat menyebalkan! Karena perasaan cinta itu datang setelah kau maki dan kau tampar keras pipiku.
Besok harinya aku menunggumu, di Halte Bus depan Kampus, berharap hati, bisa bertemu kau kembali dan katakan ”Maaf, kemarin aku telah berbuat tidak sopan kepadamu” Tapi sayang bukan kau yang aku temui, tapi lima orang laki-laki yang tidak aku kenali, tiba-tiba saja datang menghampiri.
“Eh! Lu ya, yang kemarin godain cewek gue ya!” kata seorang diantara mereka.
“Cewek lu, yang mana?” tanyaku.
“Pura-pura lupa!” laki-laki itu menarik kerah bajuku.
”Apa-apaan nih!” aku berusaha melepasnya.
“Ayo ngaku! Kemarin lu’kan yang godain cewek gue!”
”Siapa cewek lu?” aku makin terpojok.
”Tyas!” katanya membentak keras.
”Oh, Tyas anak kimia”
”Iya!” kali ini laki-laki itu makin keras menarik kerah bajuku.
”Kalau gitu gue minta maaf” kataku halus memohon.
”Setan lu!” laki-laki itu langsung memukul perutku dan tidak lama kemudian tiga atau empat pukulan mengarah ke muka dan perutku, ditambah lima pukulan lagi dan tiga tendangan penghabisan yang membawaku terkapar tak berdaya di Halte itu! Tapi syukurlah sakitku sedikit terobati, ketika seorang Mahasiswi berjilbab yang melihat kejadian itu langsung menghampiriku. Memberikan sapu tangan warna biru untuk sedikit menghapus luka di bibirku. Ya aku ingat Mahasiswa itu bernama ”Desi Soebondo” anak Fakultas Psikologi Semester Empat, yang akhirnya menjadi teman terbaikku. Teman terbaik yang mestinya aku jaga perasaannya. 

*** 

Persahabatanku dengan Desi semakin lama semakin mengukuh, semakin kuat dan tangguh yang akhirnya membuatku berfikir untuk mencoba memiliki hatinya, hatinya yang putih, bersih seperti kilauan warna jilbab yang selalu menghiasi wajahnya. Ya seperti awan itu! Awan yang sedang berjalan perlahan-lahan di atasmu, indah bukan? Tapi sayang hatinya yang putih dan bersih itu, akhirnya harus terluka karena aku, yang begitu amat mencintaimu, meskipun aku sadar bahwa kau telah memiliki seorang pacar yang tampan dan kaya-raya, tidak seperti aku, hanya anak seorang Tentara berpangkat Sersan kepala. Tapi itulah cintaku kepadamu, yang membiarkan ”Desi Soebondo” seorang yang setia mencintaiku terluka hatinya, karena merasa dipermainkan perasaannya olehku. 
Tyas, dulu aku pernah berfikir untuk memusnahkan rasa cinta ini, rasa cinta yang membuatku hilang dalam logika, karena bayangan wajahmu benar-benar tidak bisa lepas dari hidupku. Hingga akhirnya aku terbangun dalam sadarku bahwa aku hanyalah manusia biasa yang tak punya kuasa terhadap perasaanku sendiri.
“Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Ya Allah Yang Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya, Ya Allah Yang Maha Mengetahui hati, Ya Allah yang menciptakan dan memiliki cinta! Lindungilah aku dari kefasikan ku! Dan selamatkanlah aku dari rasa cinta ini, yang membingungkan pikiranku. Amin Ya Robbal Allamin!” doaku di setiap aku merindukanmu! 
Alhamdulillah, ketika aku banyak berdoa dan berserah diri dihadapan-Nya, perasaanku kepadamu semakin terkendali. Tapi sayang itu berjalan hanya beberapa hari, karena selanjutnya perasaanku terus saja menggerogoti pikiranku kembali, sampai akhirnya hatiku kalah dan lalu menyerah. Oleh sebab itulah, aku beranikan diri untuk segera berkunjung ke tempatmu, hanya untuk melihat sedikit saja wajahmu dan ucapkan kata maaf atas ketidak sopananku kepadamu di Halte Kampus, waktu itu. Meskipun pacarmu hampir saja memukul mukaku kembali.
“He! Ngapain lu kesini!” Katanya yang berdiri menantang dihadapanku.
“Sorry mas saya kesini, cuman mau ngomong sama Tyas!”
Tidak lama kemudian kau datang menghampiriku. “Sudah! Sudah! Biarkan aku saja yang ngomong sama dia” kau mencoba menenangkan pacarmu dan lalu. “Mau ngapain lu kesini!” katamu dengan raut wajah yang tidak menyenangkan hati.
“Gue datang ke sini cuman pengen minta maaf sama lu dan terserah lu. Elu mau maafin gue atau ngga, itu hak lu, itu saja! Selamat malam!” dan lalu aku-pun pergi meninggalkanmu dengan hati yang lega karena akhirnya kata maafku sampai juga ke telingamu.

*** 

Setelah kejadian itu, hari-hariku semakin tidak menentu karena pikiran dan perasaanku selalu membebaniku, seakan-akan semua tidak perduli dengan kebebasanku dari terpojoknya aku pada rasa cinta yang tidak menyenangkan hati. Aku mencoba untuk tidak perduli lagi dengan apa yang aku rasakan, bahkan waktu di Halte Kampus sore itu! Ketika kau mencoba mencuri pandang ke arahku, aku tidak perduli, bukan karena aku sombong, tapi memang karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Aku ingin hati dan pikiranku bebas terbang melintasi luasnya perasaanku sebelum aku mengenalmu, meskipun aku terpuruk dalam sadarku bahwa aku masih mencintaimu dan kerap sekali merindukanmu di malam yang kerap menghantui hari-hariku, karenamu.
“Ya Allah! Kenapa cinta ini begitu lucu? Satu kali pertemuan, tapi sudah menghancurkan kebebasanku!” 

*** 

Pukul 21.35 entah kenapa hatiku ingin sekali berada di Halte Bus itu. Seperti ada sesuatu yang akan aku temui disana. Dan tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan keluaran terbaru berhenti tidak jauh dariku. Sepertinya? Aku mengenalinya? Ya aku mengenalinya? Sedan hitam itu! Milik pacarmu. Aku sempat terkejut! Tak menyangka, melihat pacarmu hendak memperkosamu di dalam mobilnya itu! Tapi untunglah kau bisa melepaskan diri dari nafsu bejat pacarmu. Kau berhasil keluar dan BRAKKK!!! kau membanting pintunya, kau berjalan menjauh dengan tanganmu yang mencoba menghapus derasnya air mata yang membasahi wajahmu.
“Tyas! Tunggu! Tyas tolong! Dengarkan aku!” pacarmu keluar mobil dan lalu berlari mengejarmu.
“Dengarkan apa! Dengarkan mulut busukmu itu! Dasar munafik!”
“Tyas aku minta maaf! Aku khilaf!”
“He Rom! Kamu pikir aku ini cewek apa’an! Jangan mentang-mentang kamu anak Pejabat! Lalu seenaknya, kamu memperlakukan aku seperti itu!”
“Tyas!!! “
“Pergi Rom! Aku tak ingin lagi melihat mukamu!” kau terus berjalan menjauhi pacarmu.
“Tyas, maafkan aku!” pacarmu terus berusaha menenangkanmu.
“Pergi kamu! Bajingan!” kau usir pacarmu dengan amarahmu. Sedangkan aku hanya bisa duduk terdiam tanpa kata dengan mata yang mencoba menghindar dari pertengkaran hebatmu. Sampai akhirnya pacarmu pergi meninggalkanmu. Aku yang tidak kuasa melihat kau menangis, mencoba menghampirimu “Tyas…” sapaku halus kepadamu, tapi sepertinya kau tak perduli, kau berdiri, kau panggil Taxi. Dan lalu kau tinggalkan aku, tanpa sedikit kau jawab sapaanku. “Ah mungkin Tyas tidak mendengar suaraku” Pikirku.
Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan mu, di Halte Bus atau di kantin Kampus tempat biasa kau singgah dan bercanda dengan teman-teman kelasmu.

*** 

Sebulan telah berlalu, dan tanpa aku sadari aku melihatmu kembali di depan gerbang Kampus dengan tawa yang begitu manis sekali diantara sapaan hangat teman-temanmu yang mungkin telah terlalu lama merindukan kedatanganmu. Seperti juga aku. 
Aku begitu senang saat melihatmu tertawa lepas, karena aku dapat merasakan betapa kau begitu bahagianya saat itu, dengan senyum termanismu yang tergores indah karena lesung pipimu.
Jantungku berdetak kencang, langkahku perlahan-lahan, melewatimu. Dan? Kau melirik cantik ke arahku! Membuat tingkahku jadi tidak menentu! Ah! Untunglah teman kelasku menyapaku! Dan menghampiriku, kalau tidak, mungkin nafasku akan terengap-engap di depanmu, karena tidak sanggup melawan halusnya lirikan matamu.

***

Dalam kelas aku coba menuliskan puisi untukmu dan lalu ku kirim kepadamu lewat teman sekelasmu, Santi yang kebetulan teman lamaku waktu di SMA. Tapi sayang puisi itu, tidak sampai ketanganmu karena Santi salah memberikannya ke orang lain. “Ya sudahlah, mungkin lain kali, aku harus lebih jelas lagi, agar puisiku tak salah tempat”
Untuk meninggalkan jejak, aku langsung lari menuruni anak tangga kampus karena aku khawatir kau dan teman-temanmu melihatku yang baru saja sembunyi di balik pintu kelasmu. 

***

Hari-hariku semakin tidak menentu karena aku selalu memikirkanmu dan merindukanmu di tambah lagi niat ke dua orang tuaku yang ingin pindah rumah ke Semarang karena urusan dinas ayahku yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Ya Allah, apa arti rasa cinta ini bagiku? Ya Allah berikanlah aku petunjuk! Dengan seindah-indahnya nama-Mu” 

***

Dua tahun kemudian, setelah aku jadi Sarjana Ekonomi, aku mencoba mencari kerja di Jakarta, tepatnya di bilangan jalan Soedirman dengan harapan bisa bertemu denganmu kembali, yang telah lama aku rindukan. 
Alhamdulillah, setelah enam bulan aku di Jakarta, aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan Ijasahku, aku menjadi seorang Staff Akun di salah satu Perusahaan Swasta di Jakarta. Tapi sayang aku belum juga menemukanmu. Hampir saja aku putus harapan mencarimu, kalau saja aku tidak bertemu dengan teman kelasmu, yaitu Santi yang dulu pernah membantuku mengirimkan puisi cinta kepadamu, walaupun sempat salah kasih ke orang lain.
“Santi!” Tegurku, mengagetkannya yang sedang sibuk berdiri menunggu datangnya Metromini.
Tidak lama kemudian ia terdiam sejenak dan mencoba mengingat-ingat siapa aku, dan lalu “Izal!?” Sahutnya kencang.
“Iya ini aku! Izal! Ingatkan?”
“Iya aku ingat! Kemana aja kamu! Ngga pernah kelihatan?”
“Aku pindah ke Semarang, ikut orang tua, tapi sekarang aku tinggal di Bekasi dan bekerja di Soedirman”
”Di Soedirman? Berarti sama dong denganku”
“Oh ya?”
”Iya, aku sudah hampir dua tahun lebih kerja di Soedirman” katanya yang tidak menyangka akan bertemu aku lagi di Jakarta. Tidak lama kemudian, Santi menceritakan tentang keadaanmu dan ia-pun mengajakku ke tempat kerjamu yang ternyata tak begitu jauh dari tempat kerjaku. Wah, betapa senangnya aku, mendengar ajakannya itu. Tapi sayang sesampainya aku di tempat kerjamu, kau telah pulang ke Bandung dan mengambil cuti selama seminggu, karena akan di jodohkan dengan anak teman lama Ayahmu. Aku yang mendengar cerita itu, langsung tersentak kaget! Harapanku pecah! Benar-benar tidak menyangka akan sesakit ini rasanya mendengar berita itu, lucu memang, tapi inilah aku, seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta kepadamu. Aku tidak bisa lagi menutupi kelemahanku, di depan Santi aku terdiam seperti tidak bernyawa, Santi mencoba menenangkanku dan mengajakku untuk berdoa, karena hanya doa yang bisa menyelamatkan keadaanku dari ketidak-tenangan ku, pada takdirku.
“Aku adalah milikmu Ya’ Allah!  Terserah Kau-lah, mau Kau apakan aku ini! Aku tak akan melawan-Mu! Karena aku sadar, aku tak akan mampu melawan-Mu! Kau Maha Kuasa atas segalanya. Tapi salahkah bila aku saat ini meminta kepada-Mu! Untuk Kau buktikan kepadaku, tentang arti pemberian-Mu! Yang Kau beri nama cinta. Cinta yang membuat aku jadi gila di sepanjang perjalananku. Ya Allah, aku selalu berdoa kepada-Mu! Memuja tulus di hadapan-Mu! Supaya Kau hapuskan rasa cinta ini! Tapi mana?! Kau tetap diam dan membiarkan rasa cinta itu merusak akalku! Merusak batinku! Bahkan cinta itu! Semakin tumbuh dan menyiksaku. Saat aku berikhtiar penuh meraih cinta itu! Kau malah menghancurkan harapanku, dimana Ya Allah kasih sayang-Mu itu? Yang merdu terdengar dalam ayat-ayat suci-Mu! Maafkan aku Ya Allah jika saat ini! Aku katakan bahwa aku kecewa kepada-Mu!” Itulah ucapanku di depan pintu Masjid, saat hati dan pikiranku hancur berantakan tanpa ampun. 

*** 

Sehari kemudian? Aku dapat kabar dari kedua orang tuaku di Semarang, bahwa aku diharapkan segera pulang secepatnya, karena aku akan dikenalkan oleh seorang gadis pilihan kedua orang tuaku, dengan hati penuh kecewa kepada Tuhanku, aku melangkah pulang. Dan setelah sampai disana, betapa terkejutnya aku! “Ya Allah! Ampunilah aku! Ampunilah aku Ya Allah! Allah Huakbar!” aku terjatuh pingsan di ruang tamu, setelah aku melihat jelas dirimu berada tepat disamping Ibuku. 

Semarang, 27 Januari ’99
Suciyanto Ari Siregar, untuk ketulusan cinta seorang anak Tentara.


posted by Suciyanto Ari Siregar @ 09:35   0 comments
about me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: Cikarang, Jawa Barat, Indonesia

Laki-laki dengan satu istri dan satu anak yang sama cantiknya!

Udah Lewat
Archives
sutbok
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. Aenean viverra malesuada libero. Fusce ac quam.
Links
Template by
Blogger Templates
© Suciyanto Ari Siregar